Beberapa hari yang lalu dalam sebuah percakapan dengan seorang temanku ia bertanya begini: “Jika kamu disuruh memilih, mana yang akan menjadi pilihanmu? Seorang wanita yang cantik sekali namun miskin atau wanita yang kaya sekali namun parasnya jelek?” Aku berpikir sejenak memikirkan apa yang akan menjadi jawabanku padanya. Pertimbanganku cukup rumit waktu itu, bukan karena aku bimbang dalam memilih jawabannya namun karena yang mengajukan pertanyaan itu adalah seorang perempuan yang pernah menjadi “seseorang” di hatiku. Hmmm… aku pikir aku harus menjaga image-ku di hadapannya. Dalam hati aku bertanya-tanya apa sebenarnya tujuan dari pertanyaan itu? Apakah berhubungan dengan “perasaan”? “Ah, sudahlah lagipula “perasaan” itu kan sudah berakhir”, pikirku. Akhirnya aku pun memberanikan diri menjawbnya dengan agak ragu, “Ehmm… sepertinya aku lebih memilih wanita yang cantik deh, soalnya harta kan bukan segalanya.” Lalu dia berkata, “Oh… begitu, aku sudah menebak itu yang bakalan menjadi jawabanmu.” Aku terdiam sejenak, “Kenapa?”. Dia menjawab, “Ya cowok memang seperti itu, tau gak, kalo pertanyaan yang sama diajukan kepada para wanita maka kebanyakan memilih kebalikan dari jawabanmu itu. Mereka akan memilih lelaki yang kaya raya walaupun jelek daripada lelaki yang tampan sekali namun miskin. Wanita memang matre”.
Fuih… aku cukup lega juga mendengar jawaban dari dia, bukan karena isi dari pernyataannya itu namun karena arah pertanyaannya memang jauh dari masalah “perasaan”. Ternyata memang aku saja yang ke-geer-an, pikirku lagi. Akhirnya percakapan kami pun terus berlanjut ke hal-hal lainnya. Tapi tunggu, sebenarnya bukan isi dari percakapan ini yang ingin aku tulis disini, namun tentang cara berpikir pria dan wanita yang berbeda dalam hal memilih pasangannya. Bermula dari percakapan tadi itu aku sebenarnya baru sadar bahwa hal tersebut memang terjadi secara umum setidaknya di negara ini. Jadi pria kebanyakan lebih memperhatikan keadaan fisik wanita namun sebaliknya wanita akhirnya lebih memilih pria yang mapan secara ekonomi. Mengapa terjadi perbedaan seperti ini?
Secara sederhana aku melihat alasannya terletak pada sifat dasar dari pria dan wanita itu sendiri. Sejak dahulu pria sebagai kepala keluarga memang “dikodratkan” untuk mencari nafkah untuk keluarganya sedangkan wanita sebagai istri pasti akan tergantung dari sang suami. Hal seperti ini terus diwariskan pada anak cucu manusia (setidaknya di negara ini) hingga terbentuk image yang demikian yang terdapat pada setiap pria dan wanita. Ringkasnya seperti ini, pria akan memilih wanita sesuai dengan “seleranya” dan kalau urusan mencari nafkah ya merekalah (pria) yang akan mencari. Sedangkan wanita berpikir bahwa fisik tidaklah begitu penting dibandingkan dengan materi.
Namun tentu saja hal yang aku ungkapkan di atas berlaku untuk kasus tertentu. Maksudnya bahwa jika kita diajukan pertanyaan seperti yang telah disebutkan diatas maka jawabannya tentu bisa beragam sekali. Artinya dalam memilih pasangan kita tidak hanya melihat dari dua sisi (fisik dan harta) seperti yang diajukan pada pertanyaan tersebut, namun masih banyak pertimbangan-pertimbangan lain baik secara logika maupun perasaan yang harus kita libatkan dalam memilih pasangan hidup. Tapi yang aku maksudkan disini adalah aku bukan meminta jawaban yang mutlak atas pertanyaan tersebut, yang aku maksudkan adalah jawaban yang bersifat spontan yang langsung terbersit keluar dari alam bawah sadar kita. Yang menunjukkan bahwa secara tanpa sadar kita telah mewarisi pemikiran itu dari para pendahulu kita.
Lantas yang menarik disini adalah apakah pemikiran hasil warisan tadi dapat berubah? Menurutku bisa saja. Semuanya dipengaruhi oleh kondisi dunia modern saat ini. Dunia sudah jauh berubah dari masa lalu. Di negara-negara maju jelas sekali bahwa sang pencari nafkah bukanlah hanya suami, namun istri pun melakukannya. Emansipasi wanita dalam segala bidang memang sudah menjadi kenyataan. Bahkan di Amerika ada seorang pilot pesawat tempur Super Hornet , pesawat berharga 80 juta US $, adalah seorang wanita. Bayangkan, seorang wanita telah diberi kepercayaan sebesar itu. Nah, di Indonesia pun aku yakin sudah mulai bergerak ke arah demikian. Ketika suami dan istri cukup “seimbang” kontribusinya dalam memenuhi kebutuhan ekonomi, maka ketergantungan istri kepada suami juga pasti akan sangat berkurang. Dan hal ini tentunya secara tanpa sadar juga akan mempengaruhi para wanita di negara ini dalam memilih kriteria pasangannya. Sehingga nantinya jika sebuah pertanyaaan mirip seperti diatas diajukan kepada seorang wanita, maka secara spontan ia pun akan menjawab: “Aku lebih memilih pria yang tampan.”

Recent Comments