Entah kenapa dalam sejarah kehidupan manusia kebencian itu selalu ada menyertai perjalanannya. Kebencian yang disertai dendam selalu menghiasi kehidupan kita dan telah menjadi sesuatu yang terpelihara hingga ke anak cucu dan dimaklumi keberadaannya. Ada kebencian yang ditunjukkan oleh Israel yang baru-baru ini membombardir Palestina. Dendam dan kebencian yang sama juga dilontarkan oleh pejuang Hamas terhadap musuh abadinya tersebut dengan berjuang mempertahankan eksistensinya di tanah Palestina. Ada juga kebencian yang menggunung kepada anggota DPR dan pejabat yang korup di negara ini. Belum lagi konflik suku dan agama yang telah berlangsung dari dulu hingga saat ini di berbagai belahan dunia mana pun yang telah mengalirkan darah dan cucuran air mata manusia.
Sehingga secara luas, kalau diumpamakan kehidupan manusia adalah serangkain perjalanan ke puncak sebuah gunung, maka banyak sekali manusia yang menggendong “muatan-muatan” tidak perlu yang bernama dendam dan kebencian. Jika kemudian perjalanan semakin berat dan meletihkan pastilah disebabkan oleh “muatan-muatan” berat tadi. Padahal kalau mau dilihat lagi kebencian itu sebenarnya seperti sebuah pohon. Semakin kita pikirkan dan diingat-ingat maka pohon-pohon kebencian itu akan semakin tinggi tumbuhnya karena memperoleh siraman air serta tambahan pupuk dari kita.
Tanpa kita sadari juga kebencian layaknya seperti seorang tamu yang terkadang datang ke rumah kita dan kadang juga tidak datang. Semakin kita memikirkan dan mengingat-ingatnya, memberi perhatian kepadanya, maka ia tidak akan segan-segan lagi bertamu ke rumah kita. Malahan ia akan menjadi tuan rumah dari kehidupan kita dan berkuasa serta menjadi sosok yang menakutkan serta mengerikan di kehidupan kita sendiri.
Aku katakan mengerikan karena sudah dipastikan dia akan membawa kehidupan bergerak dari suatu kebencian ke kebencian lainnya. Ia menakutkan karena itulah satu-satunya warna dari kebencian. Keteduhan, kejernihan, cinta, harmoni dan keindahan diperkosa habis oleh kebencian yang telah menjadi tuan rumah. Ini yang menjelaskan kenapa banyak orang yang terikat akan kebencian. Terpenjara dan tidak bisa keluar karena sang tuan rumah mengikatnya di rumahnya sendiri.
Mirip dengan sebuah cerita Zententang dua orang pendeta yang mau berenang menyeberangi sungai. Tiba-tiba ada wanita cantik yang berteriak di belakang meminta digendong untuk turut dapat menyeberang. Pendeta yang lebih tua pun menyanggupinya. Dua jam setelah kejadian itu berlalu, pendeta yang lebih muda bertanya: “Kenapa abang sebagai pendeta mau menggendong wanita cantik tadi?” Dengan sedikit kesal pendeta tua berucap: “Saya sudah menurunkan tubuh wanita tadi dua jam tadi, namun kamu menggendongnya sampai dengan sekarang.”
Demikian jugalah cara kerja kebencian. Oleh karena kejadian beberapa waktu atau beberapa ratus tahun yang lalu, namun hingga sekarang memori atas hal itu masih tetap digendong dan dibawa-bawa kemana pun dan sampai kapan pun, bahkan hingga kematian menjemput. Sehingga jiwanya selalu dikotori oleh kebencian itu.
Aku juga teringat kisah di sebuah renungan harian. Dua orang sahabat, Adi dan Abi suatu hari berjalan menuruni sebuah bukit berbatu. Dalam sebuah percakapan tiba-tiba Adi menyinggung perasaan Abi dan karena kesalnya Abi menendang kaki si Adi. Kemudian si Adi mengukir di atas sebuah batu demikian: hari ini Abi menendangku. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan dan tibalah keduanya di sebuah tepi pantai. Kali ini giliran si Abi yang menyakiti perasaan Adi, kemudian Adi menendang kaki si Abi. Lalu Abi berhenti berjalan dan menulis di atas pasir pantai bahwa hari itu Adi telah menendangnya. Karena heran maka Adi bertanya ke Abi: “Mengapa kau menuliskannya di atas pasir? Sedangkan ketika aku menyakitimu aku mengukirnya di atas batu.” Lalu Abi berkata: “Aku menulisnya di atas pasir agar gelombang pengampunan dapat segera menghapusnya.”
Aku percaya bahwa kebencian tidak akan dapat dihapuskan oleh kebencian. Hanya kasihlah yang mampu menyembuhkannya. Memaafkan adalah salah satu perwujudan dari kasih. Kasihilah musuhmu, jangan hanya temanmu. Karena apalah lebihmu dari para penjahat, sebab penjahat pun saling mengasihi diantara mereka. Kalau pun kita harus membenci, bencilah perbuatan jahatnya bukan orang dibalik tindakan tersebut.
Recent Comments