Membuat file log dari perintah “make”

17 02 2009

Ketika ingin meng-compile suatu source program di sistem operasi turunan UNIX (linux, BSD dll) biasanya kita menggunakan GNU make. Bagi yang menggunakan sistem operasi berbasis server yang tidak menggunakan GUI (Graphical User Interface), output (keterangan) hasil dari compile menggunakan GNU make tersebut akan ditampilkan begitu saja di layar. Lalu jika layarnya di-clear maka hilanglah output tadi. Nah, bagaimana caranya agar semua output kita itu dapat disimpan di sebuah file log? Begini caranya.
Masuklah ke dalam direktori dimana source yang ingin kamu compile berada. Lalu lakukan perintah berikut:

# make >&! arsip.log

atau

# make >arsip.log 2>&1

Hasilnya,sebuah file bernama arsip.log akan terbentuk di direktori tadi dan berisikan output hasil compile kamu. Cara itu namanya redirection, jadi hasil command diarahkan ke sebuah log. Redirection tersebut bukanlah perintah bawaan dari GNU make, jadi kamu tidak akan menemukannya di man pages. Namun cara pertama diatas tidak bisa digunakan untuk bash shell, jadi jika kamu menggunakan bash pakailah perintah yang kedua. Atau jika kamu ingin file log kamu itu ditempatkan di tempat lain, bisa juga seperti ini (bisa untuk bash shell):

# make &>/home/user_kamu/arsip.log

Oke deh, selamat mencoba.





Wanita: Harta atau Fisik ?

5 02 2009

Beberapa hari yang lalu dalam sebuah percakapan dengan seorang temanku ia bertanya begini: “Jika kamu disuruh memilih, mana yang akan menjadi pilihanmu? Seorang wanita yang cantik sekali namun miskin atau wanita yang kaya sekali namun parasnya jelek?” Aku berpikir sejenak memikirkan apa yang akan menjadi jawabanku padanya. Pertimbanganku cukup rumit waktu itu, bukan karena aku bimbang dalam memilih jawabannya namun karena yang mengajukan pertanyaan itu adalah seorang perempuan yang pernah menjadi “seseorang” di hatiku. Hmmm… aku pikir aku harus menjaga image-ku di hadapannya. Dalam hati aku bertanya-tanya apa sebenarnya tujuan dari pertanyaan itu? Apakah berhubungan dengan “perasaan”? “Ah, sudahlah lagipula “perasaan” itu kan sudah berakhir”, pikirku. Akhirnya aku pun memberanikan diri menjawbnya dengan agak ragu, “Ehmm… sepertinya aku lebih memilih wanita yang cantik deh, soalnya harta kan bukan segalanya.” Lalu dia berkata, “Oh… begitu, aku sudah menebak itu yang bakalan menjadi jawabanmu.” Aku terdiam sejenak, “Kenapa?”. Dia menjawab, “Ya cowok memang seperti itu, tau gak, kalo pertanyaan yang sama diajukan kepada para wanita maka kebanyakan memilih kebalikan dari jawabanmu itu. Mereka akan memilih lelaki yang kaya raya walaupun jelek daripada lelaki yang tampan sekali namun miskin. Wanita memang matre”.

Fuih… aku cukup lega juga mendengar jawaban dari dia, bukan karena isi dari pernyataannya itu namun karena arah pertanyaannya memang jauh dari masalah “perasaan”. Ternyata memang aku saja yang ke-geer-an, pikirku lagi. Akhirnya percakapan kami pun terus berlanjut ke hal-hal lainnya. Tapi tunggu, sebenarnya bukan isi dari percakapan ini yang ingin aku tulis disini, namun tentang cara berpikir pria dan wanita yang berbeda dalam hal memilih pasangannya. Bermula dari percakapan tadi itu aku sebenarnya baru sadar bahwa hal tersebut memang terjadi secara umum setidaknya di negara ini. Jadi pria kebanyakan lebih memperhatikan keadaan fisik wanita namun sebaliknya wanita akhirnya lebih memilih pria yang mapan secara ekonomi. Mengapa terjadi perbedaan seperti ini?

Secara sederhana aku melihat alasannya terletak pada sifat dasar dari pria dan wanita itu sendiri. Sejak dahulu pria sebagai kepala keluarga memang “dikodratkan” untuk mencari nafkah untuk keluarganya sedangkan wanita sebagai istri pasti akan tergantung dari sang suami. Hal seperti ini terus diwariskan pada anak cucu manusia (setidaknya di negara ini) hingga terbentuk image yang demikian yang terdapat pada setiap pria dan wanita. Ringkasnya seperti ini, pria akan memilih wanita sesuai dengan “seleranya” dan kalau urusan mencari nafkah ya merekalah (pria) yang akan mencari. Sedangkan wanita berpikir bahwa fisik tidaklah begitu penting dibandingkan dengan materi.

Namun tentu saja hal yang aku ungkapkan di atas berlaku untuk kasus tertentu. Maksudnya bahwa jika kita diajukan pertanyaan seperti yang telah disebutkan diatas maka jawabannya tentu bisa beragam sekali. Artinya dalam memilih pasangan kita tidak hanya melihat dari dua sisi (fisik dan harta) seperti yang diajukan pada pertanyaan tersebut, namun masih banyak pertimbangan-pertimbangan lain baik secara logika maupun perasaan yang harus kita libatkan dalam memilih pasangan hidup. Tapi yang aku maksudkan disini adalah aku bukan meminta jawaban yang mutlak atas pertanyaan tersebut, yang aku maksudkan adalah jawaban yang bersifat spontan yang langsung terbersit keluar dari alam bawah sadar kita. Yang menunjukkan bahwa secara tanpa sadar kita telah mewarisi pemikiran itu dari para pendahulu kita.

Lantas yang menarik disini adalah apakah pemikiran hasil warisan tadi dapat berubah? Menurutku bisa saja. Semuanya dipengaruhi oleh kondisi dunia modern saat ini. Dunia sudah jauh berubah dari masa lalu. Di negara-negara maju jelas sekali bahwa sang pencari nafkah bukanlah hanya suami, namun istri pun melakukannya. Emansipasi wanita dalam segala bidang memang sudah menjadi kenyataan. Bahkan di Amerika ada seorang pilot pesawat tempur Super Hornet , pesawat berharga 80 juta US $, adalah seorang wanita. Bayangkan, seorang wanita telah diberi kepercayaan sebesar itu. Nah, di Indonesia pun aku yakin sudah mulai bergerak ke arah demikian. Ketika suami dan istri cukup “seimbang” kontribusinya dalam memenuhi kebutuhan ekonomi, maka ketergantungan istri kepada suami juga pasti akan sangat berkurang. Dan hal ini tentunya secara tanpa sadar juga akan mempengaruhi para wanita di negara ini dalam memilih kriteria pasangannya. Sehingga nantinya jika sebuah pertanyaaan mirip seperti diatas diajukan kepada seorang wanita, maka secara spontan ia pun akan menjawab: “Aku lebih memilih pria yang tampan.”





Memaafkan itu Menyembuhkan

2 02 2009

Entah kenapa dalam sejarah kehidupan manusia kebencian itu selalu ada menyertai perjalanannya. Kebencian yang disertai dendam selalu menghiasi kehidupan kita dan telah menjadi sesuatu yang terpelihara hingga ke anak cucu dan dimaklumi keberadaannya. Ada kebencian yang ditunjukkan oleh Israel yang baru-baru ini membombardir Palestina. Dendam dan kebencian yang sama juga dilontarkan oleh pejuang Hamas terhadap musuh abadinya tersebut dengan berjuang mempertahankan eksistensinya di tanah Palestina. Ada juga kebencian yang menggunung kepada anggota DPR dan pejabat yang korup di negara ini. Belum lagi konflik suku dan agama yang telah berlangsung dari dulu hingga saat ini di berbagai belahan dunia mana pun yang telah mengalirkan darah dan cucuran air mata manusia.

Sehingga secara luas, kalau diumpamakan kehidupan manusia adalah serangkain perjalanan ke puncak sebuah gunung, maka banyak sekali manusia yang menggendong “muatan-muatan” tidak perlu yang bernama dendam dan kebencian. Jika kemudian perjalanan semakin berat dan meletihkan pastilah disebabkan oleh “muatan-muatan” berat tadi. Padahal kalau mau dilihat lagi kebencian itu sebenarnya seperti sebuah pohon. Semakin kita pikirkan dan diingat-ingat maka pohon-pohon kebencian itu akan semakin tinggi tumbuhnya karena memperoleh siraman air serta tambahan pupuk dari kita.

Tanpa kita sadari juga kebencian layaknya seperti seorang tamu yang terkadang datang ke rumah kita dan kadang juga tidak datang. Semakin kita memikirkan dan mengingat-ingatnya, memberi perhatian kepadanya, maka ia tidak akan segan-segan lagi bertamu ke rumah kita. Malahan ia akan menjadi tuan rumah dari kehidupan kita dan berkuasa serta menjadi sosok yang menakutkan serta mengerikan di kehidupan kita sendiri.

Aku katakan mengerikan karena sudah dipastikan dia akan membawa kehidupan bergerak dari suatu kebencian ke kebencian lainnya. Ia menakutkan karena itulah satu-satunya warna dari kebencian. Keteduhan, kejernihan, cinta, harmoni dan keindahan diperkosa habis oleh kebencian yang telah menjadi tuan rumah. Ini yang menjelaskan kenapa banyak orang yang terikat akan kebencian. Terpenjara dan tidak bisa keluar karena sang tuan rumah mengikatnya di rumahnya sendiri.

Mirip dengan sebuah cerita Zententang dua orang pendeta yang mau berenang menyeberangi sungai. Tiba-tiba ada wanita cantik yang berteriak di belakang meminta digendong untuk turut dapat menyeberang. Pendeta yang lebih tua pun menyanggupinya. Dua jam setelah kejadian itu berlalu, pendeta yang lebih muda bertanya: “Kenapa abang sebagai pendeta mau menggendong wanita cantik tadi?” Dengan sedikit kesal pendeta tua berucap: “Saya sudah menurunkan tubuh wanita tadi dua jam tadi, namun kamu menggendongnya sampai dengan sekarang.”

Demikian jugalah cara kerja kebencian. Oleh karena kejadian beberapa waktu atau beberapa ratus tahun yang lalu, namun hingga sekarang memori atas hal itu masih tetap digendong dan dibawa-bawa kemana pun dan sampai kapan pun, bahkan hingga kematian menjemput. Sehingga jiwanya selalu dikotori oleh kebencian itu.

Aku juga teringat kisah di sebuah renungan harian. Dua orang sahabat, Adi dan Abi suatu hari berjalan menuruni sebuah bukit berbatu. Dalam sebuah percakapan tiba-tiba Adi menyinggung perasaan Abi dan karena kesalnya Abi menendang kaki si Adi. Kemudian si Adi mengukir di atas sebuah batu demikian: hari ini Abi menendangku. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan dan tibalah keduanya di sebuah tepi pantai. Kali ini giliran si Abi yang menyakiti perasaan Adi, kemudian Adi menendang kaki si Abi. Lalu Abi berhenti berjalan dan menulis di atas pasir pantai bahwa hari itu Adi telah menendangnya. Karena heran maka Adi bertanya ke Abi: “Mengapa kau menuliskannya di atas pasir? Sedangkan ketika aku menyakitimu aku mengukirnya di atas batu.” Lalu Abi berkata: “Aku menulisnya di atas pasir agar gelombang pengampunan dapat segera menghapusnya.”

Aku percaya bahwa kebencian tidak akan dapat dihapuskan oleh kebencian. Hanya kasihlah yang mampu menyembuhkannya. Memaafkan adalah salah satu perwujudan dari kasih. Kasihilah musuhmu, jangan hanya temanmu. Karena apalah lebihmu dari para penjahat, sebab penjahat pun saling mengasihi diantara mereka. Kalau pun kita harus membenci, bencilah perbuatan jahatnya bukan orang dibalik tindakan tersebut.








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.